SOLO | WONOGIRI | KLATEN | SUKOHARJO | KLATEN | KARANGANYAR | SRAGEN

Apa Kabar Ketoprak Solo Di Era Perubahan ?

49


– Sejarah mencatat bahwa kethoprak adalah kesenian asli Kota Solo sejak jaman RM Wreksadiningrat (1914).

Solo,Infosoloraya- Rasa kepedulian terhadap budaya tengah dilakukan Paksura (Paguyuban Kethoprak Surakarta) dengan menggelar sarasehan budaya dengan tema ‘Kethoprak di Era Milenial’ berlangsung di Wisma Seni mendapat respon positif dari para pelaku kethoprak di Kota Surakarta belum lama ini. 


Salah satu nara sumber ST Wiyono, budayawan Kota Surakarta dan Ari Purnomo, penggerak kethoprak dari Yogyakarta mencoba mengurai berbagai permasalahan kethoprak di era milenial yang mendapat tanggapan beragam dari seniman dan pelaku kethoprak di Kota Surakarta diantaranya; Gigok Anurogo, Suharno Unisri, Wahyu Eko, Tatak Prihantoro, Bambang Kemasan, Iin RRI, Kun Prastowo maupun Totok Balekambang.


Narasumber dan pegiat kethoprak saling berpendapat bagaimana kethoprak tetap eksis dan mampu menembus batas waktu menyikapi tuntutan jamannya.


Sarasehan dibuka oleh BRM Bambang Irawan atau biasa disapa Gusti Lintang selaku Ketua Dewan Kesenian Surakarta.


“Modal kesenian di Kota Surakarta mulai terbangun dan komunitas bersangkutan yang mampu mengembangkan. Tuntutan jaman mengharuskan kesenian menjadi kegiatan ekonomi kreatif memang sebuah proses tanpa ujung. Saat ini masih sebatas branding,” urai Gusti Lintang.


Sementara, Ahmad Dipoyono sebagai Ketua Paksura menjelaskan bahwa sarasehan ini diharapkan dapat memberi jawaban atas keresahan para pegiat kethoprak akan eksistensi kethoprak di Kota Surakarta untuk masa mendatang.


“Di era milenial ini, seni kethoprak harus berani memutus trade mark konvensional yang kadung melekat pada kethoprak. Harus hadir sebuah konsep pembaharuan untuk menyikapi jaman. Jangan lelah atau terhenti pada dataran konseptual, harus diwujudkan secara nyata diatas panggung dan biarlah waktu yang akan menilai,” urai Ari Purnomo, yang merupakan putra maestro kethoprak Yusuf Agil.


Adapun, ST Wiyono merasa prihatin atas ‘derajat’ kethoprak yang saat ini ratingnya kalah jauh dengan seni tampilan lainnya.


“Tidak cukup bernostalgia saja. Bila dahulu kethoprak merupakan primadona pentas, suatu waktu harus kembali menjadi seni tradisi komunal yang diminati masyarakatnya. Guna mencapai tahapan itu yang sudah selayaknya saling bahu membahu dan menyatukan kekuatan dari para pelaku kethoprak,” urai ST Wiyono.


Eksistensi kethoprak di Kota Surakarta pada waktu akhir-akhir ini kembali marak dengan hadirnya pentas di berbagai kelurahan di Kota Surakarta sebagai rangkaian kegiatan tahunan seni budaya kelurahan di Kota Surakarta.


“Sejarah mencatat bahwa kethoprak adalah kesenian asli Kota Surakarta sejak jaman RM Wreksadiningrat (1914), maka sudah selayaknya apabila kethoprak kembali ke rumah. Kembali ke Kota Surakarta dengan berbagai pensikapan kebutuhan jamannya. Menegaskan Surakarta sebagai Kota Budaya,” ujar Kun Prastowo, pegiat kethoprak Jebres.(Taufik / KP)

Sarasehan budaya ketoprak Milineal ( Foto Dokumrntasi Istimewa )

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.