SOLO | WONOGIRI | KLATEN | SUKOHARJO | KLATEN | KARANGANYAR | SRAGEN

Seni Kothekan Lesung di Setren Slogohimo

27

INFOSOLORAYA.COM-WONOGIRI-Hingar bingar lomba kothekan lesung yang digelar di pendapa Kecamatan Slogohimo pada Sabtu (11/8) malam mempu menampilkan romantika dan nostalgia masa lalu ketika lesung menjadi alat warga desa untuk memenuhi kebutuhan pangannya. Lesung menjadi alat menumbuk padi. Disela-sela simbok simbok nutu pari, mereka menyempatkan untuk sejenak mendendangkan tembang yang diiringi kothekan lesung.

Lesung jumengglung sru imbal imbalan, ngumandang mrepegi sajroning padesan. Suara lesung bertalu berganti nada, mengumandang terdengar ke seantera perdesaan. Sungguh suatu kondisi yang menenteramkan dan memberi harapan kepada para warga.

Romantika dan nostalgia itu mendapat animo warga masyarakat Kecamatan Slogohimo Kabupaten Wonogiri yang tengah memeriahkan HUT Kemerdekaan RI ke-73. Tujuh belas desa dan kelurahan berlomba menjadi yang terbaik dan akhirnya Desa Sedayu yang keluar sebagai juaranya.

Lagu wajib berjudul Lesung Jumengglung mampu mereka garap dengan apik dengan balutan koreografi yang menghibur penonton yang berjubel di depan halaman kantor kecamatan di pinggir alas Donoloyo itu.

“Bila tahun lalu lomba threthek mendapat apresiasi warga Slogohimo bahkan tahun ini diadopsi Pemkab Wonogiri dimana lomba threthek menjadi lomba wajib tiap kecamatan maka Kecamatan Slogohimo kembali menampilkan seni tradisi yang lama hilang; kothekan lesung. Seni tradisi ini masih hidup di sudut-sudut desa/kelurahan di Kecamatan Slogohimo. Bahkan Desa Setren mendapat apresiasi dari Pemkab Ponorogo berupa pembinaan dan kesempatan tampil secara rutin event seni budaya di Ponorogo,” ungkap Camat Slogohimo, Drs Khamid Wijaya.

Di ujung utara Kecamatan Slogohimo tepatnya di Desa Setren, sebuah desa di bawah Gunung Semar yang terkenal dengan obyek wisata Girimanik, kothekan lesung masih menjadi seni tradisi yang tetap dipertahankan dan terus dimemule hingga kini.

“Seni tradisi kothekan lesung bagi warga Desa Setren adalah bagian dari kehidupan karena tidak lepas dari kesejarahan Desa Setren dimana dulu nenek moyang kami bernama Ki Rangga Wira Saraya sebagai cikal bakal Desa Setren mendapat hadiah berupa lesung. Cerita rakyat itu hingga kini masih tetap dikenang,” papar Kepala Desa Setren, Sri Purwanti.

Sri, satu diantara dua Kades wanita di Kecamatan Slogohimo itu menceritakan bahwa dulu kala, ada tokoh sakti bernama Ki Braja Lintang dan Ki Setra Drema yang berniat menonton wayang, mereka tengah menunggu sahabatnya; Ki Rangga Wira Saraya. Karena tidak segera datang, maka kedua orang itu mengisi waktu dengan saling mengadu kekuatan dengan berlomba mengangkat lesung yang terbuat dari kayu nangka. Lesung itu bukan sembarang lesung karena lesung terbesar yang dimiliki warga Setren.

Keusilan mereka berdua berlanjut, lesung itu mereka lontarkan ke dusun Salam dimana Ki Rangga Wira Saraya tinggal. Lesung pun melayang terbang dan jatuh berdentam di halaman rumah Ki Rangga Wira Saraya.

Ki Rangga Wira Saraya yang mendapat kiriman lesung paham betul siapa yang berbuat usil itu. Maka diambillah alu dan lesung itupun ditabuh dijadikan alat musik untuk mendendangkan tembang. Suara kothekan lesung itu terdengar membahana walaupun hanya satu alu namun terdengar seperti dipukul oleh puluhan orang.

“Cerita Rakyat itulah yang mengikat warga Desa Setren untuk terus melestarikan seni tradisi kothekan lesung. Seni itu kami wadahi dengan dibentuknya kelompok seni kothekan lesung Rangga Budaya. Namun ironisnya, yang melakukan pembinaan dan memberikan perhatian justru Pemkab Ponorogo, bukan Pemkab Wonogiri,” keluh Sri.

Dia menambahkan bahwa kelompok seni kothekan lesung Rangga Budaya suatu waktu tampil di acara Grebeg Sura yang digelar di Alun-Alun Ponorogo. Dari acara itulah mereka mendapat perhatian dari Yayasan Paranormal Ponorogo dan Dinas Pariwisata Pemkab Ponorogo.

Kelompok seni kothekan lesung Rangga Budaya mendapat uang pembinaan, seragam dan pelatihan berupa lagu-lagu yang diciptakan Dinas Pariwisata Pemkab Ponorogo. Secara rutin kelompok seni itu juga tampil mengisi acara yang digelar di Ponorogo.

Sri Purwanti berkali-kali melakukan upaya pendekatan ke Pemkab Wonogiri namun belum mendapat tanggapan maksimal. Dia berharap, gelaran lomba kothekan lesung yang diadakan di pendapa Kecamatan Slogohimo beberapa waktu lalu menjadi pintu pembuka bagi dinas terkait pemkab Wonogiri lebih memperhatikan seni tradisi.

“Dalam lomba kemarin, kami sebatas berpartisipasi karena konsep tampilan dan kriteria penilaian yang digariskan panitia tidak sama dengan apa yang selama ini kami pertahankan. Biarlah kami dengan ciri khas kami, tidak menjadi juara bukan masalah. Terpenting seni tradisi kothekan lesung telah membuka jalan untuk kembali dikenal masyarakat,” pungkasnya.( Zul)

Komen yang ditutup, tetapi jejak balik dan ping balik terbuka.